SAV

Private, nonpolitical and nontrivial

Inside the Mossad (2017). Dendam yang Harus Dibayar Tuntas

Bukan film dokumenter biasa, “Inside the Mossad” yang tayang pada tahun 2017 dengan Duki Dror, Yossi Melman, dan Chen Shelach sebagai kreator, mengafirmasi secara samar berbagai operasi yang dilakukan Mossad. Sebagai disclaimer, dokumenter ini menebalkan sudut pandang kepentingan nasional Israel sebagai sebuah komunitas politik.

Dari empat episode, episode pertama bertajuk “In poison, bomb or silencer” sangat informatif karena menghadirkan informasi dari sumber pertama, yaitu para mantan petinggi operatif Mossad dan mereka menceritakan tentang berbagai operasi Mossad termasuk yang di luar yurisdiksi kedaulatan Israel. Rafi Eitan, Director of Operations 1950-1981, Ram Ben Barak, Deputy Director, Dani Yatom, Director 1996-1998, dan Zvi Zamir, Director 1968-1974 adalah tokoh tokoh yang digali informasinya dalam dokumenter ini.

Setidaknya ada beberapa peristiwa yang diulas berdasarkan keterangan narasumber. Pembunuhan serangkaian tokoh sayap militer Hamas, penangkapan penjahat Holocaust Adolf Eichmann, operasi balas dendam tragedi Olimpiade Munich 1972, dan serangkaian tindakan pencegahan terorisme di Israel adalah beberapa momen yang dijabarkan.

Mohammed Al-Zawari atau sering juga ditulis Mohamed Zouari terbunuh di dalam kendaraan di Tunisia pada 15 Desember 2016. Statusnya sebagai seorang ahli drone dan terafiliasi sayap militer Hamas, menjadikan banyak pihak menuding Israel di belakang kejadian ini. Peristiwa ini tidak tunggal, melainkan rentetan dari pembunuhan individu-individu yang dianggap berbahaya dan terafiliasi dengan pihak-pihak yang bisa menyerang Israel secara militer. Tewasnya Mahmoud Al-Mabhouh, salah satu tokoh sentral di kelompok sayap militer Hamas, Izz ad-Din al-Qassam Brigades,  di sebuah hotel di Dubai pada 2010 diduga juga berkaitan erat dengan operasi luar negeri Mossad. Tudingan ini tentu dibantah secara diplomatis oleh pejabat tinggi Israel saat itu.

Menariknya upaya preventif juga tidak selalu dengan penumpahan darah. Momen itu terkait dengan upaya pembangunan infrastruktur persenjataan oleh Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser dengan merekrut sekitar 100 ilmuwan dari Jerman. Secara ironis, operatif Mossad merekrut mantan komandan perang Nazi, Otto Skorzeny, untuk meneror ilmuwan-ilmuwan itu, sekali lagi, hidup atau mati. Rafi Eitan membocorkan upaya perekrutan Skorzeny dengan jaminan keamanan bahwa dirinya tidak akan pernah disentuh Israel. Tindakan kompromis ini berhasil dan Mesir tidak bisa mengembangkan persenjataannya dan Skorzeny sampai akhir hidupnya tetap dikenang sebagai tokoh Nazi.

Adolf Eichmann, sebagai bagian dari rezim Nasi yang melakukan kejahatan kemanusiaan Holocaust, ditangkap di Buenos Aires, Argentina, dan dibawa ke Yerusalem untuk diadili pada tahun 1961. Momen peradilan yang kemudian diabadikan oleh  Hannah Arendt dalam bukunya “Eichmann in Jerusalem: Report on the Banality of Evil” ini mungkin menjadi kesan pertama bagi dunia melihat operasi Mossad yang sampai ke belahan dunia lain. Tentu saja Eichmann bukan satu-satunya pelarian Nazi yang terus dikejar oleh Israel sampai ke ujung dunia, hidup atau mati.

Salah satu sejarah paling kelam Israel setelah mendirikan negara adalah peristiwa penyanderaan atlit Israel saat Olimpiade di Munich 1972. Kelompok radikal Black September alias Munaẓẓamat Aylūl al-aswad menangkap dan membunuh 11 atlit Israel.  Dengan nada getir, Zvi Zamir, direktur Mossad saat itu mengenang bahwa dirinya tidak berdaya menolong dan secara eksplisti mengungkapkan kekecewaan terhadap tindakan otoritas keamanan Jerman Barat saat itu. Seperti template peristiwa, tokoh-tokoh utama yang berada di belakang kelompok Black September mengalami nasib yang naas sebagai hasil dari operasi yang terkenal di media sebagai Operasi Murka Tuhan atau Operasi Bayonet ini. Terkait hal ini, Zvi Zamir dalam wawancara menyatakan bahwa tindakan-tindakan pencegahan diperlukan untuk melindungi nyawa dan aset orang Israel. Tindakan pencegahan ini kemudian meluas menjadi serangkaian operasi termasuk meniadakan dari dini calon-calon ekstrimis yang dinilai bisa membahayakan Israel.

Dari sisi operasi militer tentu saja nama besar Mossad terkonfirmasi. Namun dengan perubahan teknologi dan perubahan dinamika politik internasional tentu jalur militer bukan cara pertahanan diri yang populer di mata dunia internasional. Tidak seperti kompatriotnya, CIA, publikasi tentang operasi mempengaruhi politik kekuasaan di negara lain dari Mossad sangat minim sehingga publik tidak bisa atau terbatas dalam meberikan penilaian. Dokumenter ini tentu saja tidak memberikan seluruh aspek operatif Mossad, namun pemirsanya, terutama dari pihak yang tidak terlibat langsung dalam konflik dengan Israel, akan mendapat referensi berharga tentang bagaimana suatu komunitas yang berada di kawasan panas berusaha mempertahankan eksistensinya, dengan segala cara.