SAV

Private, nonpolitical and nontrivial

Voice of Silence (2020). Menyuarakan Realitas yang Tak Terkatakan

Sinema Voice of Silence / 소리도 없이 (2020) garapan sutradara Hong Eui-Jeong ketika dicek pada awal tahun ini di laman IMDB hanya mendapat rating 6,5. Tentu saja rating ini subyektif, namun narasi yang dibawa oleh film ini harus mendapat lebih banyak apresiasi penikmat film.

Narasi utama yang coba dihadirkan adalah bagaimana menyuarakan kondisi atau situasi yang tidak bisa diungkapkan secara lisan. Dua karakter utama dalam peran ini adalah Tae-in (diperankan Yoo Ah-In) dan Cho-hee (Seung-ah Moon). Tae-in seorang yang punya disabilitas tunawicara sedangkan Cho-hee dalam masa kanak-kanaknya sudah mendapat tekanan sosial terkait statusnya sebagai anak perempuan.

Alkisah dua karakter utama ini dipertemukan dalam situasi kriminal. Tae-in bersama sohibnya yang lebih senior, Chang-bok (Yoo Jae-Myung) punya profesi utama penjual telur ayam disamping profesi tidak wajarnya sebagai petugas pembersih tempat melakukan kejahatan seperti penyiksaan dan pembunuhan. TKP adalah sebuah rumah, atau lebih tepatnya gudang terbengkalai. Tugas mereka berdua adalah membersihkan jejak-jejak kejahatan sampai menghilangkan jasad korban.

Suatu hari, mereka menerima perintah tidak biasa untuk menjemput dan mengamankan seorang sandera. Tak diduga, sandera ini adalah seorang anak perempuan, lengkap dengan seragam sekolah, dan harus mereka jaga sampai uang tebusan tiba.

Untuk ukuran seorang anak perempuan, pembawaan Cho-hee sangatlah tenang, mampu berpikir rasional, mampu memanajemen emosi dengan baik, sampai dalam tingkat tertentu memanipulasi diri sendiri dan orang lain. Belakangan kita baru tahu bahwa Cho-hee selalu merasa tertekan dalam keluarga dan selalu dibanding-bandingkan dengan saudara laki-lakinya. Mungkin dari kondisi dimana harus survival seperti ini kematangan ini muncul.

Sementara itu, Tae-in ditampilkan sebagai anak polos, miskin, dan kurang pintar. Dalam beberapa adegan, Tae-in juga mudah sekali untuk dipengaruhi dan dimanipulasi seniornya, Chang-bok. Namun pembawaannya ini menyimpan sisi bahwa dia adalah seorang kakak yang harus menghidupi adik perempuannya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Singkat cerita ketika Tae-in “mengamankan” Cho-hee di rumahnya yang berantakan, timbul relasi diantara mereka dan dengan adik perempuan Tae-in. Tak diduga, Cho-hee sedikit demi sedikit mampu memperbaiki keluarga yang disfungsional ini. Cho-hee mampu menjadi unni atau kakak perempuan yang baik, fungsi sosial yang ironisnya tidak dihargai oleh kedua orangtuanya sendiri.

Di akhir cerita, Tae-in dan Cho-hee harus berpisah dalam situasi yang getir. Cho-hee kembali dengan selamat ke sekolah dan orangtuanya, kembali kepada realitas yang dibencinya, dan Tae-in lari tunggang langgang dalam ketakutan dan ketidakpastian.

Ini mungkin bukan ending ideal yang diharapkan mayoritas orang, namun kekuatan utama film ini dalam mengangkat narasi ketidakberdayaan dan ketidakdilan sudah lebih dari cukup untuk menjalankan fungsi kritik sosialnya.